Terima kasih kepada para mubaligh yang secara spontan mengagetkan saya dengan melontarkan kata “Syubhat !!”, “Eeh kaget!! “. Syubhat sen...

ABU-ABU MENYERBU

  Terima kasih kepada para mubaligh yang secara spontan mengagetkan saya dengan melontarkan kata “Syubhat !!”, “Eeh kaget!! “. Syubhat...

  #MELAMUN Berhenti Di Covid 19   Sudah enam bulan lamanya kita semua menghadapi pandemi, saya sangat bersyukur karena ma...

Berhenti Di Covid 19

 #MELAMUNBerhenti Di Covid 19  Sudah enam bulan lamanya kita semua menghadapi pandemi, saya sangat bersyukur karena masih hidup dalam...

    Pindahan Di Tempat Hari ini banyak sekali orang yang berbondong-bondong untuk melakukan hijrah, seraya ingin mengha...

 

 

Pindahan Di Tempat

Hari ini banyak sekali orang yang berbondong-bondong untuk melakukan hijrah, seraya ingin menghapus dosa yang pernah ia buat dan juga sebagai media “menjemput hidayah”, mayoritas bercerita tentang masa lalunya yang kelam dan terkadang hal itu seringkali dijadikan bahan motivasi berdakwah, menjual masa lalu yang kelam lalu digiring untuk melakukan hijrah. Tentunya mayoritas masyarakat akan setuju dengan hal-hal seperti itu, saya sendiri juga setuju, tidak ada yang salah karena ini sebuah kampanye positif, hanya saja yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai manusia menyikapi fenomena hijrah ini agar tetap terjaga dalam guncangan.

 

Satu sisi para pendengar akan dibuat penasaran bahkan terhibur dengan kisah masa lalu mereka yang kelam, penuh kesalahan, penuh penyesalan, lalu tiba-tiba ia tersadar dan taubat. Lama kelamaan muncul pertanyaan dalam lamunan saya, mengapa para pemabuk dan penggemar seks bebas ini bisa menyesali perbuatan itu sejadi-jadinya? Sampai hijrah pula? Padahal, kedua hal tersebut dibutuhkan sebuah tanggung jawab dan kebijaksanaan dalam mempraktekannya, hal yang paling mendasar jika gemar minum sudah pasti harus berusia 21+ dan ‘tahu batasnya’, artinya dalam keadaan mabuk pun harus memiliki “kesadaran” yang kokoh. Jika gemar seks minimal jangan malu untuk membeli alat kontrasepsi agar mengurangi resiko terhadap  pasangan dan tentunya diri sendiri.

 

Mungkin ini maknanya dari sebuah pendidikan karakter dan pentingnya edukasi tentang hal tabu sekalipun, sehingga tidak terjadi kekagetan moral dalam diri kita, bagi saya edukasi untuk mengenal apa yang kita sukai adalah pondasi awal sebelum mengenalkan agama. Artinya begini, ketika para “pendosa” itu melakukan aktivitas kedosaannya dengan penuh pengetahuan, tanggung jawab dan kebijaksanaan, pada saat mereka bertemu dengan hidayah pastinya akan diterima dengan jiwa yang kokoh, dan sudah pasti akan beragama dengan bijak, tidak genit “sekedar mengingatkan” para pendosa lain yang belum menemukan hidayah, karena semua memiliki kesempatan dan waktunya masing-masing.

 

Hal ini akan menjadi sebuah kerancuan besar ketika ada seseorang yang terlalu maksiat dan pada saat bertemu hidayah menjadi terlalu akhirat. Dari kata “terlalu” itu saja sebenarnya tidak menunjukan perubahan melainkan sebuah kemandekan yang tidak mengubah apapun, kenapa? Karena sebenarnya ia tetap dalam keadaan ekstrim, hanya saja posisinya dari ekstrim kiri ke ekstrim kanan, yang hasilnya akan sama-sama berlebihan dan tidak sesuai dengan konsep Islam.

 

Sedangkan pembentukan karakter melalui edukasi sangat penting untuk menjaga kendali diri (tahu batas), mengetahui apa yang kita suka, tidak kagetan, dan kebal terhadap bisikan-bisikan setan (memiliki prinsip). Hal ini sangat tepat untuk menciptakan jati diri yang moderat sesuai konsep Islam itu sendiri yaitu ummat al wasath (umat pertengahan).

 

Akhir kata, ternyata melamun juga memabukkan.

Pergolakan Pemikiran Islam Catatan Harian Ahmad Wahib Saya kira Ahmad Wahib (Alm) seorang visioner, bisa menebak, mengkritik,...

Pergolakan Pemikiran Islam

Pergolakan Pemikiran Islam Catatan Harian Ahmad Wahib Saya kira Ahmad Wahib (Alm) seorang visioner, bisa menebak, mengkritik, gelisah...

Depresi: Mengapa terjadi, bagaimana mengatasinya? Dimulai dari membaca kata pengantar, saya sudah seperti berada dalam...





Depresi:
Mengapa terjadi, bagaimana mengatasinya?

Dimulai dari membaca kata pengantar, saya sudah seperti berada dalam ruangan praktek psikiater. Buku ini benar-benar membawa pembacanya larut dalam renungan-renungan konflik kehidupan.

Tidak hanya itu, buku ini juga memberikan solusi depresi secara umum, sangat cocok dibaca dan dipelajari oleh para penderita depresi maupun yang ingin menyembuhkan para penderita depresi.

 “Depresi bukan merupakan gangguan emosional yang umum seperti rasa marah dan rasa takut. Tetapi orang tidak mencari pertolongan klinis untuk kedua gangguan yang umum tersebut.”

Ada 4 macam penyebab manusia mengalami depresi, yaitu:

1.        Penyalahan Diri
Orang yang larut dalam perasaan bersalah. Ada beberapa penjelasan mengenai kasus penyalahan diri, saya tertarik dengan penjelasan sebagai berikut:

“Jika orang ini menyalahkan dirinya sendiri, ia tergolong orang yang sombong karena ia tidak menyadari bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, sehingga ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Apakah pada saat teman kita tertimpa musibah seperti kita, kita lantas menyalahkan dia? Tentu tidak. Maka dari itu maafkanlah dirimu.”

2.        Persoalan Emosional
Hal ini identik dengan kekecewaan. Pembahasan menarik pada poin ini adalah sebagai berikut :

“Teori Emosi ABC, kita dapat mengalami dua macam sakit, yaitu sakit fisik dan sakit emosional. Bila sebuah mobil menyebabkan kaki anda patah, mobil itulah A dan kaki yang patah C. Mobil menyebabkan kaki anda patah. A menyebabkan C. Kita seringkali merasa sakit tetapi tidak ada darah mengalir, tulang patah atau kulit terbuka. Dari mana sakit itu datang ? Dari B, pikiran yang anda miliki mengenai A. Pikiran andalah yang menyakiti anda, bukan perbuatan atau perkataan orang lain terhadap anda.”

3.        Mengasihani Diri
Merasa dirinya terlalu suram. Cara mengatasinya hampir sama dengan Nomor 1&2

4.        Mengasihani Pihak Lain
Terlalu larut dalam memikirkan penderitaan orang. Daripada kita merasa depresi, lebih baik kita marah.

“Karena anda demikian terbeban oleh semua penderitaan yang anda saksikan di dunia ini, apa yang anda dapat lakukan untuk menguranginya? Apakah anda telah benar-benar menyelami keadaan dan membereskannya? Apakah anda pernah menulis surat kepada surat kabar. Misalnya agar keadaan tersebut mendapat perhatian dan diperbaiki?”

Kata-kata “dosa” & “neraka” barangkali bukan satu-satunya penyelesaian absolut dalam mencegah upaya bunuh diri bagi sebagian orang. Oleh karena itu “dosa” & “neraka” butuh dukungan berupa alasan-alasan logis dalam menangani upaya bunuh diri.


 
DEPRESI
Dr. Paul Hauck

PENYUNTING / ALIH BAHASA
Gianto Widianto

PENERBIT
ARCAN

#NekatReview - Confessions Of A Heretic The Sacred And The Profane: Behemoth And Beyond (Pengakuan Seorang Satanist yang Human...

#NekatReview - Confessions Of A Heretic The Sacred And The Profane: Behemoth And Beyond (Pengakuan Seorang Satanist yang Humanis)

Dalam hal ini saya sangat bersyukur memiliki beberapa spot membaca di tempat-tempat bersuasana klaustrofobik. Tempat seperti...

#NekatReview: Kiat Sukses Hancur Lebur (Bacaan Klaustrofobik)

Saya selalu senang membaca tulisan nonfiksi, apalagi yang bersifat sejarah. Karena ibarat menjelajahi mesin waktu, kita bisa b...

#NekatReview: Soe Hok Gie - Zaman Peralihan (yang Ternyata Tidak Pernah Beralih)

Pages (2)12 »